Senin, 12 April 2010

IKHLAS KARENA ALLAH

Hari ini khutbah jum’at memang lumayan singkat, namun isinya juga tidak kalah mantap. Dengan gaya khasnya sang khatib membawa khutbah dalam bahasa Aceh dengan begitu menawan sehingga sarat makna. Khususnya lagi dengan topik Ikhlas, yang mungkin kita sendiri sangat sering luput dari sifat ini.

Khutbah jum’at kali ini memang banyak kisah dan contoh yang khatib ungkapkan, karena seperti saya bilang tadi banyak kita sebagai umat muslim mungkin khususnya di Aceh yang luput akan hal yang sepele tersebut. Adapun contoh yang sangat simpel sang khatib memberikan gambaran seseorang yang ketika pagi hari, sebutlah hari itu hari senin. Dan tentu kita tahu puasa di hari senin adalah sunat.

Nah, orang yang tadi ketika pulang ke rumah saat pagi senin (sebelum shubuh) itu dalam keadaan lapar, namun sayang dirumahnya tidak ada makanan yang bisa disantap dan juga dia malas untuk memasak (teruntuk bagi kaum adam mungkin). Tanpa berpikir panjang, orang tersebut langsung meniatkan puasa senin saja lah dari pada lapar gak ada gunanya. Inilah dia ikhlas kita yang sering terlupakan, kegiatan ada sesuatu mendesak lainnya akibat malas atau apa, mengurungkan niat untuk berpuasa.

Tapi sayang, puasa yang dilakukan orang tersebut hampa adanya. Yang menjadi pokok utama adalah niat, ketika berpikir dari pada lapar tidak karuan berniat puasa karena Allah (Lillahi ta’ala), tapi satu hal yang terbagi karena lapar tadi. Ini contoh pertama yang khatib berikan.

Ada contoh selanjutnya yang mungkin ini hampir setiap waktu kita mengerjakannya, apa lagi kalau bukan shalat (jamaah atau sendiri). Hal yang menarik disini adalah perkara yang juga sangat sepele, ketika kita shalat di lihat oleh orang banyak atau pun ada orang yang kita segani di antara para jamaah.

Tentu anda tahu bila penyakit apa yang ada pada orang tersebut kalau bukan riya yang tidak lepas juga dari sifat ikhlas tadi. Lantas dimana hilangnya keikhlasan kita tadi, yang pasti adalah kembali kepada niat, dan shalat seperti ini pun tidak ada apa-apanya (naudzubillah).

Bayangkan ketika niat pertama kita Lillahi ta’ala kemudian timbul rasa riya kepada orang yang kita segani, lantas shalat kita perpanjang tidak seperti biasanya lagi (tentunya kita sudah bisa membayangkan).

Selain itu pula dengan shalat sendiri dirumah atau berjamaah, ketika berjamaah pakaian kita selalu rapi dan bagus. Namun, masih banyak kaum muslimin juga ketika shalat sendiri hal ini dianggap sesuatu yang remeh. Hanya dengan pakaian seadanya dan paling vital lagi hanya sebatas sarung yang dinaikkan di atas pusat langsung menghadap Allah (walaupun hal ini sah-sah saja).

Tapi, coba bayangkan bila hal itu dilakukan di depan orang banyak/jamaah, tentunya anda bisa bayangkan. Inilah inti keikhlasan kita ketika menghadap Allah dan orang lain, tak terasa betapa kita tidak malu atas sikap ini dan merasa penghambaan kita kepada Allah setiap 5 waktu sekali hanya sebagai ritual sebatas kewajiban (semoga Allah menjauhkan kita dari sifat-sifat seperti ini).

Dan terakhir adalah sebagai penghujung khutbah sang khatib sedikit membawa cerita lama (hadist) dalam kesempatan sifat ikhlas ini, yakni tentang pengaruhnya syetan terhadap seorang yang taat. Jadi begini ceritanya (banyak versi hadist ini diceritakan) dalam bahasa khasnya sang khatib bercerita. Di sebuah daerah hidup seorang lelaki yang taat kepada Allah yang setiap harinya bekerja mencari kayu bakar untuk dijual dan tiap harinya juga bibir lelaki ini tidak luput dari berzikir memuji Allah.

Tiba suatu saat, sebut saja orang taat ini hijrah ke gunung untuk menjauhkan diri dari pengaruh dunia dan ingin lebih mendekatkan diri dengan Sang Khalik-Nya tanpa memikirkan masyarakat yang ditinggalnya. Waktu berjalan dan terus berjalan sehingga banyak pemuka agama/ulama di kampunya dulu telah pergi meninggalkan dunia. Namun, lelaki taat ini tetap saja tidak menghiraukan keadaan masyarakatnya tersebut dan masih tetap menetap diri di daerah pegunungan.

Hingga suatu hari masyarakat kampunya lelaki tadi dibawakan sebuah ajaran baru untuk menyembah pohon. Tanpa berpikir panjang banyak masyarakat pun ikut bersama ajaran itu karena telah berkurangnya ilmu agama akibat tidak adanya ulama-ulama lagi.

Tidak lama setelah itu, lelaki taat ini mendengar berita tersebut, bahwa masyarakatnya telah berbelok keyakinan. Jelas saja, lelaki taat ini marah dan berniatnya untuk menebang/membabat habis pohon sesembahan tersebut agar mereka tidak bisa menyembahnya lagi.

Dengan begitu gagahnya sang lelaki taat tadi membawa sebilah kapak untuk menebangnya pohon, namun ditengah perjalanan sang syetan pun menyamar untuk menggodanya dengan berubah wujud menjadi manusia. Tanpa berfikir panjang, sang syetan menyapa hai lelaki yang taat? kemana engkau ingin pergi dengan tergesa-gesa seperti itu. Lelaki tadi menjawab, “aku ingin menebang pohon sesembahan tersebut karena telah menyesatkan umatku”.

Dan syetan pun tidak kalahnya menggoda, apa urusan mu dengan pohon itu. Bukannya kamu taat kepada Allah dan selalu dekat dengan-Nya, kenapa harus ingin menebang pohon itu. Sang lelaki pun menjawab, “ketaatanku dengan Allah adalah menyuruhku untuk menebang pohon itu”. Syetan ternyata naik marah, “kalau begitu katamu, langkahi dulu mayatku”, kata syetan. Apa yang terjadi, ternyata pergulatan yang tidak sehat pun terjadi, dan lelaki taat tadi dapat mengalahkan syetan dengan mencekiknya di leher sehingga syetan kalah KO.

Dan disinilah hal yang sangat menarik, walau pohon yang tadi masih tetap utuh, sang syetan ternyata disela-sela masa sekaratnya meminta grasi kepada lelaki taat tadi agar melepaskannya. Sangatlah wajar bila orang taat ini memaafkan syetan tersebut. Tidak lama kemudian syetan yang menyerupai manusia ini pun memberi permohonan yang luar biasa kepada lelaki taat tadi.

Hai lelaki yang taat, aku ingin memberimu dirham tanpa kamu harus bekerja lagi mencari kayu bakar sehingga kamu bisa beribadah lebih banyak lagi kepada Allah, dan nanti dirham itu akan aku tempatkan dibawah sajadah mu setiap kamu selesai shalat ambillah dirham itu untuk kamu gunakan semaumu. Tanpa berkutik lagi, sang lelaki taat itu mengiyakan hal tersebut. Janji syetan ini pun ditepatinya kepada lelaki taat tadi, setiap selesai shalat selalu ada dirham di bawah sajadah lelaki taat itu. Namun, tibalah suatu saat dirham tersebut tidak ada di bawah sajadah lelaki taat tadi.

Apa yang terjadi, lelaki itu bangun dan membawa kapak kembali ingin menebang pohon sesembahan tadi. Diperjalanan ternyata syetan menyapa kembali, hai kemana engkau lelaki tua dengan kapakmu itu?, lelaki taat tadi tanda basa basi langsung menjawab, “aku ingin menebang pohon sesembahan umatku itu”. Tak dapat dipungkiri ternyata pergulatan yang tidak sehat episode 2 bergulir lagi. Anda tahu, kali ini syetan lah yang berhasil menyekik lelaki taat itu. Dan nasib KO pun bagi sang lelaki taat tadi.

Disinilah inti pernyataan ikhlas tadi yakni ketika syetan memberikan kata-kata terakhir kepada lelaki tadi, hai lelaki taat “tahukah kamu kenapa dulu aku kalah dari mu, karena engkau pertama kali ingin menebang pohon itu karena Allah dan tiba hari ini engkau kalah kalah karena niatmu jelas bukan lagi karena Allah melainkan dirham yang aku janjikan dulu”. Wallahu’alam apa terjadi dengan lelaki taat itu.

Inilah sedikit uraian khutbah singkat Jum’at kali ini (18/1) semoga kita menjadi orang-orang yang benar-benar ikhlas bukan karena sesuatu dan nafsu atas dunia ini melainkan sesuatu hal yang berdasarkan ikhlas/nawaitu karena Allah SWT (Lillahi ta’ala).

0 komentar:

Poskan Komentar

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template